Pekerja Migran Perempuan dan Kesepian Batin. Antara Iman, Ilmu, dan Kesehatan

Kolom & Feature19 Dilihat
banner 400x130

SRM ||| ARTIKEL – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah pekerja migran terbesar di Asia. Keberangkatan mereka bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Namun, di balik cerita sukses remitansi dan kerja keras, ada sisi kehidupan yang jarang dibicarakan: kesepian dan kebutuhan batin yang sering kali terabaikan.

Dimensi Agama: Kesabaran dan Kehormatan Diri

Dalam perspektif agama, hubungan antara suami-istri tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan lahiriah, melainkan juga ketenangan jiwa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa pasangan diciptakan sebagai sakinah, mawaddah, wa rahmah (ketenangan, kasih sayang, dan rahmat). Ketika jarak memisahkan pekerja migran dengan keluarganya, muncul ujian kesabaran yang tidak ringan.

banner 970x250

Ulama sering menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dan memperkuat spiritualitas di tengah keterbatasan. Ibadah, doa, serta komunikasi rutin dengan keluarga menjadi benteng moral untuk menghadapi kesepian biologis maupun emosional.

Dimensi Akademis: Dampak Migrasi pada Keluarga

Kajian akademis menunjukkan bahwa migrasi internasional memberi dampak besar pada struktur keluarga. Hugo (2002) menyebutkan bahwa pemisahan jarak antara pekerja migran dengan keluarganya berpengaruh pada dinamika psikologis, baik bagi pekerja maupun anggota keluarga yang ditinggalkan.

Penelitian lain (Silvey, 2006) menegaskan bahwa pekerja migran perempuan rentan mengalami dilema emosional ketika berada jauh dari pasangan. Kesepian, kerinduan, hingga tekanan sosial kerap hadir sebagai konsekuensi dari kondisi tersebut.

Dimensi Kesehatan: Risiko Psikologis dan Fisik

Dari sudut pandang kesehatan, kesepian bukan sekadar perasaan, melainkan kondisi yang bisa berdampak pada tubuh. WHO mencatat bahwa migran berisiko lebih tinggi mengalami stres, depresi, hingga gangguan tidur. Kebutuhan biologis yang tidak terpenuhi dapat berujung pada tekanan mental, yang jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi memicu masalah lain seperti perselingkuhan atau keretakan rumah tangga.

Pendekatan kesehatan menekankan pentingnya dukungan psikososial bagi pekerja migran. Program konseling, komunitas sesama pekerja, hingga akses layanan kesehatan jiwa bisa menjadi solusi konkret.

Penutup: Refleksi untuk Semua Pihak

Kesepian yang dialami pekerja migran adalah realitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari sisi agama, hal ini menjadi ladang kesabaran dan ujian menjaga kehormatan. Dari sisi akademis, migrasi menunjukkan dampak nyata pada kehidupan keluarga. Dari sisi kesehatan, kesepian berpotensi menimbulkan gangguan serius bila tidak diantisipasi.

Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh pihak keluarga, masyarakat, pemerintah, dan lembaga agama bersama-sama memberikan dukungan yang nyata. Pekerja migran bukan hanya pahlawan devisa, tetapi juga manusia dengan kebutuhan batiniah yang patut dihargai .


Referensi

  • Hugo, G. (2002). Effects of international migration on the family in Indonesia. Asian and Pacific Migration Journal.
  • Silvey, R. (2006). Consuming the transnational family: Indonesian migrant domestic workers to Saudi Arabia. Global Networks.
  • WHO. (2021). Health of migrants: reset the agenda.
  • Al-Qur’an, QS. Ar-Rum: 21.

(Penulis : Fajar)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *